Rabu, 18 September 2013

Tentang ‘Benang Merah’nya Ruben



“Salam sastra NTT. Novel saya yang kedua berjudul “Benang Merah” akan terbit dalam waktu dekat. Saya sudah minta beberapa komentar lepas dari teman-teman. Dengan hormat, saya minta kesediaan Bapak untuk berikan komentar lepas yang nantinya akan dipasang di halaman awal novel tersebut. Komentarnya seputar isi novel, 2-5 paragraf. Atas kesediaanya, saya ucapkan terima kasih. Kalau bersedia, saya minta alamat emailnya agar bisa mengirimkan file novelnya. Terima kasih. Unu Ruben Paineon”. Begitulah pesan yang dikirim saudara saya, Ruben kepada saya via facebook. Secara pribadi saya merasa berhutang setelah pernah diminta beliau untuk bergabung menggarap proyek  Antologi puisi tentang kemiskinan yang di inisiasi putra/i NTT, dan saya menghilang secara sengaja karena kesibukan lain. 

Penasaran. Itu situasi awal yang saya rasakan ketika diminta sahabat Ruben Paineon untuk memberikan komentar tentang novel ke-2 nya. Mulailah saya cari waktu tenang untuk mengikis rasa penasaran saya dengan membaca Benang Merah. Membaca secara perlahan – lahan, berusaha masuk semakin dalam ke  alur kisahnya. Rasa penasaran, berubah begitu cepat menjadi sesuatu yang tidak asing karena saya seperti berjalan ke dalam pengalaman sendiri di kampung sana. Kefamenanu.
                                                                                           
Secara terang Ruben menjelaskan realitas kehidupan yang kompleks dan mengharukan. Jika kita mengingat  beberapa waktu yang lalu, Presiden SBY pernah mengklaim kalau pertumbuhan ekonomi naik. Artinya kehidupan bangsa membaik. Benarkah? Untuk sebagian tempat, mungkin iya. Buat beberapa level masyarakat, mungkin benar. Mereka merasakan perbaikan kehidupan. Lewat Benang Merah Ruben paineon mengajak. Sesekali coba buanglah pandangan ke pedalaman timur Nusa Tenggara. Pulau Timor. Pulau yang strategis karena berbatasan darat dengan Timor Leste dan berbatasan laut dengan Australia. Pulau yang mestinya jadi teras/halaman depan juga sebagai pintu masuk dan akses ke negara tetangga, tampak terpojok dengan istilah  miskin, tertinggal, dan terbelakang.

Berkisah tentang Ego, Jiwa dan jatidiri seorang pemuda bernama Kolo, novel Benang Merah karya sahabat saya Ruben Paineon, membuka mata kita tentang realitas masyarakat (bukan hanya di Timor) secara lebih telanjang. Pengemis di Jawa, dan pencuri di Timor, Tidak ada beda, kalau kita telusuri akar masalahnya.  Anak jalanan, sarjana yang sibuk mencari kerja, masyarakat yang masih terpenjara dalam mitos ditengah kemajuan dunia digital, adalah serpihan-serpihan yang menunjukkan bangsa ini tampak gamang.

 Saya merasakan Benang Merah, sangat menyentil. Jangan sampai bangsa ini terlena dengan kemajuan yang dijabarkan dalam data statistik. Disajikan hanya dalam angka-angka, yang sebenarnya mudah sekali dimanipulasi. Masih banyak mereka yang butuh perhatian. Bahkan untuk urusan yang sangat penting seperti pendidikan, penegakan hukum, juga akses terhadap pekerjaan. Membaca lalu merenungkan Benang Merahnya Ruben Paineon, kita tersadar di pedalaman timur nusantara, bangsa ini masih perlu banyak berbenah.

Kolo terus mencari jatidiri ditengah bangsa yang tampak kehilangan jatidiri.  Sungguh menyentil.


Salam.
Hery Opat.  
Masyarakat biasa tinggal di Jakarta.


NB.
Novel Benang Merah akan terbit dalam waktu dekat. Dan itu komentar saya setelah membaca keseluruhan isi novel kawan saya Ruben Paineon.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar