Kitaro concert in China
Kamis, 19 Februari 2015
Senin, 16 Februari 2015
Selasa, 09 Desember 2014
Seorang Bayi harus membayar penuh untuk ASI
Seorang Bayi harus membayar penuh untuk ASI
(Tulisan Wawan Setiawan, Okt. 2008,)
Rabu 8 oktober 2008 dunia telah ditandai runtuhnya liberalisme
total. Amerika sebagai provokator utama Liberalisme sendiri telah menjadi
liberalis terpimpin/terkontrol sejak kongres setuju menalangi/memberikan hutang
ke pihak2 swasta yang arus kas-nya mengering. Sore hari sambil tetap menyimak
berita, mengamati indeks bursa, dan meratapi nasib dan hanya bisa geleng2
kepala, yang siang itu harus membeli USD sebesar Rp 9800/per 1 USD untuk
membayar kewajiban ke hongkong, saya sempetkan menelpon anak dan istri saya di
Russia, saya kabarkan ke mereka bahwa Your Lenin, Your Trotsky, dan Your Marx
tersenyum simpul melihat dunia saat ini. Di kota-kota Russia yang namanya Lenin
Skaya/Street, Karl Marx street berada dimana-mana. Patungnya bahkan menyebar
hampir di setiap kota, sehingga sangat menancap erat di mind penduduk kota
Russia.
Menyimak langkah2 pemerintah Indonesia saat ini, barulah saya sedikit menaruh
apresiasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang tiba2 melakukan
kontrol penuh penutupan bursa saham, menyarankan BUMN buy back saham2 yang ada,
tiba2 Bapak Presiden kita berubah arah secara drastis. Sore hari sempat melihat
berita di TV bahwa beberapa negara eropa telah mengambil alih penuh kontrol
otoritas keuangan, Islandia telah melakukan pemotongan uang/devaluasi hingga
40% dan Russia turun tangan untuk menyuntikan dana ke Bank Sentral. Teman saya
perwira polisi yang pada hari selasa kita berdiskusi dengan apa yang terjadi
dengan uang-nya, dan saya pada hari selasa sudah mempunyai feel sebaiknya bursa
ditutup untuk sementara, meminta penjelasan lagi dengan kejadian hari rabu pagi
siang dan sore. Jelasnya penjelasan singkat saya adalah ini kemenangan kecil
komunisme, jangan berpersepsi negative dulu terhadap komunisme yang orang
Indonesia kaitkan dengan PKI, namun komunisme adalah kontrol penuh pemerintah
terhadap otoritas2 politik, ekonomi, dan budaya.
Di TV dan portal2 berita, masih saja saya saksikan orang2 tidak
setuju bursa ditutup atau turun tangannya pemerintah terhadap otoritas
keuangan, kontrol BI exchange rate, dan kontrol2 lainnya. Jelasnya analisa saya
mungkin hanya beberapa golongan yang berteriak seperti ini, yang pertama orang
yang tidak mau lose atau menerima kekalahan dalam short selling bursa sehingga
ingin memanfaatkan rebound bursa namun tidak punya kesempatan (ini karakter
serakah), yang kedua pihak swasta kuat atau kelas atas Indonesia seperti Sofyan
Wanandi yang sudah mencicipi fasilitas banyak dari pemerintah dan saat ini
sudah berfundamen kuat, dan ketiga agen2 Amerika yang tetap ingin melanggengkan
kekuasaan ekonomi di Indonesia. Sejak BBM naik saya selalu beropini bahwa ini
negara gila, mohon maaf saya sangat marah terhadap pemerintah Indonesia dan
sangat tidak menaruh hormat sedikitpun, meski saya menyadari bahwa saya menghirup
udara, meminum air dari tanah pertiwi ini. Liberalisasi minyak dan gas saat itu
saya ibaratkan bahwa Ibu pertiwi yang kita cintai mempunyai susu ASI, yaitu
minyak dan gas, dan kita adalah anak kandung dari Ibu pertiwi ini, namun kita
harus membayar ASI yang kita minum padahal kita masih bayi (setidaknya subsidi
pemerintah tetap diperlukan dengan pertimbangan kekuatan ekonomi rakyatnya)
Meski saya menghirup energi ibu pertiwi ini, namun sejak saya
menggeluti bisnis IT, saya sangat merasakan sedikitnya peran pemerintah dalam
mendukung regulasi2 dan memfasilitasi bisnis IT, untuk itulah secara mandiri
saya harus mencari celah2 yang bisa dimanfaatkan dan mencari2 peluang2 sendiri.
Rasanya begitu berat menjadi rakyat Indonesia ini yang dibiarkan dan tidak dituntun
untuk menjadi dewasa, bahkan harus rela untuk selalu terjengkang ketika belajar
berjalan. Saya sangat terkesan dengan patriotisme rakyat Russia, wajar saja
karena mereka semua adalah pekerja negara, dan negara memberi makan terhadap
mereka, layak untuk dibela mati matian hingga titik darah terakhir, wajar
Stalingrad dipertahankan mati-matian dari serbuan Nazi Jerman, sebagai imbal
baliknya negara sangat melindungi mereka seperti anak kandung dari Ibu pertiwi
yang sangat dicintai, melarang anak-nya terhadap hal2 yang tidak menguntungkan
bagi anaknya.
Ketika final liga champion 2008 banyak jurnalis mengeluh terhadap
pemeriksaan masuk ke Moskwa, tidak mengherankan bagi saya yang harus rela
mencopot sepatu dan sabuk ikat pinggang untuk diperiksa ketika masuk dan keluar
ke negara komunis (laptop diacak-acak), dan ketika pulang harus ditanya membawa
uang berapa (melindungi kapital flight). Jelasnya membawa uang masuk ke negara
komunis adalah dimudahkan, dan disusahkan ketika membawa uang keluar, hal makro
ekonomi yang sempat saya pahami ketika mendengar penjelasan dari manajer hotel
Bakrie di negara komunis yang kesulitan mengirim uangnya ke tanah air. Bahkan
ketika pulang itu saya ingat betul bahwa teman saya Pak Teguh yang menjadi koki
di hotel itu, yang harus membawa usd 1000 untuk anak istri di Indonesia harus
melakukan split uang usd 500 untuk saya bawa (uang saya tinggal usd 100 untuk
pulang, karena saya sudah menghabiskan kira2 usd 10.000 untuk 2 bulan
berkelana). Split uang ini untuk memudahkan agar teman saya ini tidak
dipersulit ketika pulang ke tanah air Indonesia hanya gara2 membawa uang cukup
banyak bagi negara komunis saat itu.
Membaca kompas hari rabu kemaren saya cukup tersenyum ketika
mengingat buku 1001 mati ketawa cara Russia, saking mereka orang2 serious dan
wajahnya selalu tegang, maka banyolan-banyolannya menjadi konyol. Berita yang
menjelaskan pemerintah Russia telah melakukan penutupan bursa sebelumnya dan
mempertimbangkan untuk membuka bursa dengan cara transaksi yang dinegosiasikan,
tidak boleh menggunakan komputer, namun hanya boleh dilakukan secara lisan. Hal
ini ditempuh agar bursa bisa dikontrol penuh dan bisa diseimbangkan karena
dengan tidak boleh memakai komputer secara langsung maka bisa menolak anomali
transaksi. Jelasnya seperti tulisan saya sebelumnya bahwa komputer, Internet,
dan teknologi informasi adalah produk American Dreams, yang membuat sesuatunya
sangat sulit dikontrol dan memicu gerakan2 liar. Aneh juga seperti balik pada
jaman dulu bahwa transaksi bursa dilakukan tanpa menggunakan komputer, tapi
inilah kewaspadaan jeli ala Russia,konyol namun mengena. (seperti kisah sufi
Nasrudin Hoja, konyol dan cerdas)
Sebelum peristiwa ini terjadi gonjang ganjing ekonomi Indonesia
yang tiada henti karena berkiblat ke liberalis hampir total. Dari rencana
penjualan BUMN (swastanisasi), liberalisasi minyak dan gas, kenaikan harga2
barang, sempat geleng2 kepala apakah bapak Presiden ini terlalu diikat di
sangkar emas Istana hingga tidak mengerti rasa penderitaan rakyatnya. Namun
hari rabu kemaren tiba2 arah kebijakan ekonomi dibalik 180 derajad, BUMN
disarankan membeli sahamnya kembali, semoga menjadi penyadaran baru pemerintah
Indonesia.
Mungkin saya orang yang hanya sekedar bingung saja, bahwa kepala
saya dibentur-benturkan terhadap apa yang bisa saya baca, pelajari, dan
menangkap “feel” dari gerakan kemerdekaan Indonesia, UUD 1945 dan fakta di
lapangan. Indonesia bisa menjadi ada saya pahami karena Naar de Republiknya Tan
Malaka, konsep awal tentang negara Republik Indonesia. Indonesia ada karena
merupakan dialektika dari Anti Thesis Imperalisme Belanda. Para pendiri
republik ini seperti Ir. Soekarno, Hatta, Syahrir, dan lain2 jelas merupakan
orang2 sosialisme dari ide2 Marx. Tahun 1945 feel yang saya dapatkan adalah
euforia kemenangan Bolshewik yang baunya menyebar kemana-mana. Wajar saja
karena Bolshewik menawarkan kontra imperialis. Wajar saja jadinya ketika
Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi hakekat undang/hukum Indonesia yang saya
pahami memberikan feel ala Marx. Namun memahami UUD 1945 ini sungguh sulit di
era 2000 ketika saya sedikit memahami ekonomi makro, dan politik. Mungkin
Indonesia lebih enjoy bereksperimen lagi dengan NASAKOM, dengan mencoba
menerapkan membenturkan 2 kutub yang berbeda dan melangkah ke arah gaya tarik
masing2 sesuai dimensi waktu saja, atau jelasnya memilih abu abu yang bergerak
saja. Untuk berubah mungkin kepala kita harus dihantam batu dulu.
-----------------
*Tulisan ini masih pas dibaca di situasi kekinian
*Gambar, saya ambil dari google
Kamis, 20 November 2014
I would like to say thank you, and I love you.
Saya memang pelupa. apalagi yang harus diingat adalah angka angka. Tanggal, no hp,atau apalah itu yang ada angka-angkanya memang akan sulit bertahan lama di lintasan memori saya. Saya menyadari itu, karena persis setahun yang lalu saking sibuknya saya mengerjakan pekerjaan kantor sampai harus lembur- dan ternyata fatal- sayalupa kalau tanggal 21 November adalah ulang tahun istri saya.
Cerita selanjutnya bisa ditebak.
"Kak lupa yah sama ulang tahun aku??" Cerewetnya.
''Kak itu ga ada romantis-romantisnya" mulai ngambek.
Saya harus berusaha mencari alasan - alasan yang mendekati pembenaran untuk menutupi kelupaan saya yang berakibat ulang tahun istri saya setahun lalu itu, tanpa tiup lilin, potong kue, atau senyum tawa bahagia.
Jadinya ulang tahun itu berubah menjadi sad story, karena ngambek yang tidak kunjung sembuh,
Itu Setahun yang lalu. Dan setidaknya saya belajar dari itu.
Selamat ulang tahun sayang..
Tetap jd wanita yang setia disamping ku..
Tetap juga jadi pribadi yang hangat menyambut saya dengan pelukan..
Terlebih lagi untuk kepercayaan yang tak berkurang sedikitpun : bahwa kemanapun saya pergi, sesering apapun saya terbang, saya pasti selalu pulang.
***
I would like to say thank you … and I love you.
Jumat, 03 Oktober 2014
Manisku
Aku ingin mati di sisimu manisku,.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya..
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.. (Gie)
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya tanya..
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.. (Gie)
Selasa, 30 September 2014
AGAMA TERBAIK
(Dialog Leonardo Boff dan Dalai Lama ini, merupakan kemasan
pikiran Kang Lambang MH yang saya ambil dari Blog nya)
-----------------------------
Pada sebuah jamuan makan malam antara Leonardo Boff,
pendiri Theology of Freedom, dengan Dalai Lama, Boff mengajukan pertanyaan kepada Dalai
Lama, “Your Holliness,
apakah agama yang terbaik?” Boff berpikir bahwa dia akan mendapatkan jawaban “The Tibetan Buddhism”
atau “The oriental religion,
yang jauh lebih tua dari agama Kristen”.
Ternyata
Boff salah duga. Dalai Lama termenung sejenak, dan menjawab dengan tersenyum,
“Agama yang terbaik adalah agama yang bisa mendekatkan Anda dengan Tuhan Anda.
Agama yang bisa membuat Anda menjadi manusia yang lebih baik.”
Karena malu dengan jawaban yang
begitu bijaksana, Boff kemudian melanjutkan bertanya, “Apa yang bisa membuat
saya menjadi manusia yang lebih baik?”
Masih
sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab, “Apapun yang bisa membuat Anda lebih
bijaksana, sensitif, mandiri, kasih sayang, empati, beretika, dan bertanggung
jawab. Agama yang bisa membawa Anda kesana, itulah agama yang terbaik.”
Dalai Lama kemudian melanjutkan, “Sahabatku, bagi saya tidak
penting apa agama Anda ataupun apakah Anda beragama atau tidak. Yang penting
bagi saya adalah bagaimana kelakuan Anda dihadapan keluarga, teman, lingkungan,
orang lain maupun terhadap dunia. Ingatlah, alam semesta ini adalah
pantulan dari tindakan dan pikiran kita. Hukum aksi dan reaksi tidak hanya
berlaku di wilayah fisika. Itu juga berlaku pada hubungan antar manusia. Jika
kita bergabung dengan kebaikan, maka kita akan menerima kebaikan. Jika kita
bergabung dengan kejahatan, maka kita akan menerima kejahatan. Apa yang telah
disampaikan oleh nenek moyang kita ini adalah kebenaran yang hakiki. Anda bisa
mendapatkan apapun yang Anda inginkan bagi orang lain. Menjadi bahagia atau
tidak, itu bukanlah takdir, tetapi itu adalah pilihan. Dan semuanya itu bersumber dari pikiran kita.
Tidak ada agama apapun yang lebih tinggi dari kebenaran yang hakiki.”
Kamis, 18 September 2014
9 hari tidak bertemu istri
Tanggal 18 - 19 Konsinyir di Bandung
Tanggal 19 - 21 Supervisi di Padang
Tanggal 22 - 25 Peningkatan Kapasitas Mediator di Pekan Baru
Tanggal 25 - 27 Penyusunan Pedoman Mogok di Kendari
Semoga semua lancar dan bernilai manfaat. Semoga juga saya dan istri selalu diberkahi kemudahan dan kesehatan.
Ngantuk
Penerbangan ke Padang sekitar pukul 11. 10 Wib, dan dari Padang nanti akan terus ke Bukit Tinggi.
Sebenarnya saya masih tidak kuat menahan kantuk. Pukul 03.00 dinihari tadi saya dan faizal (teman kantor) dijemput layanan travel cipaganti dari The Ardjuna Hotel Bandung menuju Cengkareng. 2 jam lebih perjalanan kurang cukup untuk membuat diri ini puas tidur.
Sikat gigi, sarapan, baca baca majalah, mainin hp lalu akhirnya bingung mau ngapain. Yah kebutalan ada perangkat komputer dengan koneksi internet yang super duper cepat akhirnya bisa nongol lagi di laman ku ini.
Tapi sama saja, karena tidak ada ide untuk menulis.
Saya masih ngantuk.
Kamis, 17 Juli 2014
Pilihan
Kehidupan manusia sarat pilihan. Siapa saja, boleh memilih. Orang berhak memilih jadi baik atau buruk, jadi pecundang atau pahlawan, sukses atau gagal, zero atau hero, something atau nothing. Yang pasti adalah semua pilihan punya resiko. Punya konsekuensi masing masing. Kalau sudah memilih satu hal, harus juga bersiap dengan apapun resikonya walau itu sakit, butuh perjuangan, bahkan melelahkan .
Untuk resiko sebuah pilihan memang ada harga yang harus dibayar.
Untuk resiko sebuah pilihan memang ada harga yang harus dibayar.
Rabu, 16 Juli 2014
Tanggal 22 nanti
Akhir-akhir ini banyak orang yang kecewa, sebagian mungkin marah juga acuh dengan pemerintahan negara. Tentang bagaimana ia mengatur ini dan itu, memfasilitasi ini dan itu dst. Karena itu tak sedikit yang mengkritik, ngasih usul, bahkan ada yang memaki maki pemerintah. Terlalu banyak opini, artikel, seminar diskusi dan debat diselenggarakan dengan harapan-harapan yang terlontar; semoga keyakinan kita bernegara tetap memiliki tujuan.
Indonesia kita ketahui adalah negara yang berdaulat atau istilah kampungnya Sovereign state. Rakyat yang berdaulat dalam demokrasi negara ini, dan negara lah yang menyiapkan aksesi menuju kesejahteraan rakyatnya. huisssss...itu idealnya.
Semua itu terproses dalam penyelenggaraan Pemilu. Masyarakat diajak berpertisipasi, terlibat dalam semua tahapan. Diskusi negara ini tidak hanya ada di ruang ruang ber-ac saja. Diskusi negara ini tuntas milik semua golongan. dari tukang ojek, pengemis, pedagang pasar, karyawan, pns, sampai TKI di luar negeri semuanya bicara tentang pesta demokrasi negara ini. Bincang bincang tentang negara pun tidak hanya ada di dunia nyata, di dunia justru lebih ramai meriah. Ini baik. Masyarakat diajak ke dalam diskursus. Masyarakat digerakkan untuk tumbuh kesadarannya terlibat terhadap sesuatu yang berhubungan dengan nasib mereka. Apakah itu harus??? Jawabannya : HARUS!! kan yang megang daulat ya Rakyat.
9 Juli lalu, kita telah memutuskan untuk memilih pemimpin negara ini. Ada 2 calon presiden dan calon wakil presiden, yang berusaha memenangkan hati masyarakat negeri ini. bermain isu, perkuat wacana, mantapkan visi misi, rancang strategi bertempur babak belur di kantung - kantung basis partai, muluk dengan janji, mengelabui dengan pencitraan dalam 5 kali debat. Ramai, riuh dan berisik. Ini kontestasi yang luar biasa. Luar biasa karena ini negara besar, negara yang mestinya kuat di mata negara negara lain. Negara yang strategis yang membuat kuku kuku asing tetap bernafsu mencengkeram. Kalau kita salah milih, atau kalau rakyat yang punya daulat itu belum sadar pemimpin seperti apa yang mereka butuh, maka ini negara hanya bermimpi tentang kedaulatan yang kosong. Rakyat akan terus jadi jargon dalam retorika-retorika rakus elit tertentu.
Sebagai warga negara, saya sudah datang ke TPS, coblos dan celupin tinta di tangan. Saya bayar tuntas tanggung jawab saya sebagai warga negara untuk perubahan di 9 Juli lalu. Hingga saat ini belum ada kepastian siapa yang memenangkan pertarungan ini. Masih ada klaim - klaim versi quick qount. Ada calon dan pendukungnya yang sudah merayakan kemenagan. Saya kira, tunggullah real cont versi KPU. Media juga harus proporsional pemberitaannya jangan sampai terprovokasi.
Sambil terus mengawal sehingga 22 juli nanti. Rakyat pasti menang. Bukan si A atau Si B. Bukan Militer atau Sipil. Semua rakyat Indonesia.
Yakin saja.. sekali lagi yakin.. karena keyakinan lah yang membuat kita tidak kembali kepada kegelisahan.
Indonesia kita ketahui adalah negara yang berdaulat atau istilah kampungnya Sovereign state. Rakyat yang berdaulat dalam demokrasi negara ini, dan negara lah yang menyiapkan aksesi menuju kesejahteraan rakyatnya. huisssss...itu idealnya.
Semua itu terproses dalam penyelenggaraan Pemilu. Masyarakat diajak berpertisipasi, terlibat dalam semua tahapan. Diskusi negara ini tidak hanya ada di ruang ruang ber-ac saja. Diskusi negara ini tuntas milik semua golongan. dari tukang ojek, pengemis, pedagang pasar, karyawan, pns, sampai TKI di luar negeri semuanya bicara tentang pesta demokrasi negara ini. Bincang bincang tentang negara pun tidak hanya ada di dunia nyata, di dunia justru lebih ramai meriah. Ini baik. Masyarakat diajak ke dalam diskursus. Masyarakat digerakkan untuk tumbuh kesadarannya terlibat terhadap sesuatu yang berhubungan dengan nasib mereka. Apakah itu harus??? Jawabannya : HARUS!! kan yang megang daulat ya Rakyat.
9 Juli lalu, kita telah memutuskan untuk memilih pemimpin negara ini. Ada 2 calon presiden dan calon wakil presiden, yang berusaha memenangkan hati masyarakat negeri ini. bermain isu, perkuat wacana, mantapkan visi misi, rancang strategi bertempur babak belur di kantung - kantung basis partai, muluk dengan janji, mengelabui dengan pencitraan dalam 5 kali debat. Ramai, riuh dan berisik. Ini kontestasi yang luar biasa. Luar biasa karena ini negara besar, negara yang mestinya kuat di mata negara negara lain. Negara yang strategis yang membuat kuku kuku asing tetap bernafsu mencengkeram. Kalau kita salah milih, atau kalau rakyat yang punya daulat itu belum sadar pemimpin seperti apa yang mereka butuh, maka ini negara hanya bermimpi tentang kedaulatan yang kosong. Rakyat akan terus jadi jargon dalam retorika-retorika rakus elit tertentu.
Sebagai warga negara, saya sudah datang ke TPS, coblos dan celupin tinta di tangan. Saya bayar tuntas tanggung jawab saya sebagai warga negara untuk perubahan di 9 Juli lalu. Hingga saat ini belum ada kepastian siapa yang memenangkan pertarungan ini. Masih ada klaim - klaim versi quick qount. Ada calon dan pendukungnya yang sudah merayakan kemenagan. Saya kira, tunggullah real cont versi KPU. Media juga harus proporsional pemberitaannya jangan sampai terprovokasi.
Sambil terus mengawal sehingga 22 juli nanti. Rakyat pasti menang. Bukan si A atau Si B. Bukan Militer atau Sipil. Semua rakyat Indonesia.
Yakin saja.. sekali lagi yakin.. karena keyakinan lah yang membuat kita tidak kembali kepada kegelisahan.
Piala Dunia, Der Panzer dan Mimpi Garuda
Sejak kecil saya menyukai sepak bola. 1994 adalah piala dunia pertama yang saya tonton, dan waktu itu saya kelas 3 SD. masih teringat benar di kampung kami oelnitep, 10 Km arah timur kota Kefa, satu-satunya keluarga yang punya televisi adalah kepala sekolah SD kami waktu itu. Itupun TV box hitam putih dengan sambungan arus dari aki, karena belum ada listrik PLN, dan tiang bambu panjang disamping rumah sebagai antene plus barang barang alumunium sebagai penangkap sinyal. Tentu di era kemajuan digital seperti hari ini, semua hal lebih mudah. Di kampung saya yang jauh di timur sana juga sudah banyak berubah. sekarang hampir setiap rumah ada perangkat tv. Orang bisa menonton piala dunia dari kamar masing masing.
Piala Dunia 2014 sudah kelar. Perhelatan yang menarik perhatian seluruh dunia, berakhir dengan kemenangan Der Panzer Jerman. Si kecil Goetze, telah mengubur harapan super Messi di laga akhir. Argentina tertunduk, Jerman berpesta. Bukan hanya itu banyak rekor lain tercipta oleh Der Panzer. Sebelumnya di laga semifinal Brazil dipecundangi, dicukur, dipermalukan, dikutuk, diajari 'cara bermain bola' dengan skor telak 7-1. Saya yang sejak awal penyelenggaraan piala dunia menjagokan Brazil seperti tidak percaya dengan keperkasaan Jerman.
Sejak 1954 Jerman diberi julukan tim Panzer atau Der Panzer. Para penggemar sepakbola saat itu menganalogikan timnas Jerman sebagai sebuah tank/panzer yang bermesin diesel yang semakin lama semakin panas. Di Brazil 2014 Jerman begitu luar biasa, bukan karena tim itu yang semakin lama semakin panas tapi karena Jerman memang selalu di depan untuk mengaitkan banyak hal secara sains. Termasuk sepakbola mereka. Klinsman dan Loew memberi kesempatan para jago IT di Jerman mendesign sebuah aplikasi taktikal sepakbola yang bisa dimainkan dari gadget-gadget para pemain Jerman. Dari aplikasi itu bisa diketahui karakter dan tipikal tiap pemain, sehingga pelatih akan mudah menyusun skema permainan. Saya kira itu sangat berhasil. Jerman mengangkat trofi karena mereka bermain sebagai tim. Mereka mengawinkan ilmu pengetahuan dan sepakbola sebagai tontonan dan seni.
Di Berlin, ratusan ribu orang berjubel di jalan menyambut kedatangan pahlawan pahlawan dari Rio de Jeneiro, Brazil.
Di Indonesia mulai Jakarta hingga pelosok kampung di ujung timur sana, semua masih bermimpi suatu saat Garuda juga ada disana.
Der Panzer, Es ist dein spiel..!
Sabtu, 12 Juli 2014
Diklat mediator HI
Laksana seorang sastrawan yang suka mencari hal-hal baru, sejak lama pula saya ingin sekali mengikuti diklat mediator. untuk itu, saya awali ucapan terima kasih bnayak kepada, Pa Sahat (Direktur PPPHI), Pa Aruan (Kasubdit Pencegahan), yang beri kesempatan kepada saya ikuti diklat mediator di Puri Ayuda Resort, dan PKL di Sidoarjo.
Mengikuti diklat mediator sama seperti memunculkan kenagan di bangku sekolah dulu. Rutinitasnya terpola ; bangun pagi olahraga, belajar, diktat/modul, tugas, presentase, dan ujian. begitu terus menerus. karena sejak awal saya begitu ingin menjadi mediator, maka semua yang terpola dalam rutinitas itu menjadi konsekuensi yang asyik. keseluruhan ada 3 angkatan iklat mediator. angkatan 72, 73 dan angkatan 74. tiap kelas jumlahnya 30 orang. tentu saya senang sekli ada di kelas 73 dengan teman teman yang selalu saya sebut sebagai warna nusantara. Ada bu Yulizar dari Loksemawe, Ada juga pa Agus dari timur Fak fak.
Di Kelas.
Belajar menjadi mediator memang adalah tantangan tersendiri. Dituntut penguasaan substansi hukum ketenagakerjaan dan kecakapan-kecakapan lain seperti, negosiasi, lobby, presentase, penaganan kasus etc. semua harus diikuti sebagai prasyarat sebelum ujian kompetensi.
Substansi materi plus jadwal yang padat, tak ayal bisa membuat jenuh seperti ini. hehehe,..
Diluar kelas
Semua kejenuhan selesai di dalam kelas. Di luar kelas semua jadi menarik, olahraga, karaoke, domino, catur sampai play station. Yang paling menyenangkan di luar kelas adalah olahraga, terkecuali makanan (ikan bawal dan telur 1 mili) racikan Ayuda. Olahraga pagi di ayuda itu : SKJ (ala pa kumis dan mas soryo), Pocopoco (yang heboh itu gaya pulang pisau dengan lagu maumere), Jalan pagi sehat, dan PBB. selalu seru, ramai dan heboh. Sorepun selalu diisi dengan, voly, futsal lalu renang. pengecualian selama di sidoarjo, hanya fasilitas basket yang bisa dimanfatkan.
Mengikuti diklat mediator sama seperti memunculkan kenagan di bangku sekolah dulu. Rutinitasnya terpola ; bangun pagi olahraga, belajar, diktat/modul, tugas, presentase, dan ujian. begitu terus menerus. karena sejak awal saya begitu ingin menjadi mediator, maka semua yang terpola dalam rutinitas itu menjadi konsekuensi yang asyik. keseluruhan ada 3 angkatan iklat mediator. angkatan 72, 73 dan angkatan 74. tiap kelas jumlahnya 30 orang. tentu saya senang sekli ada di kelas 73 dengan teman teman yang selalu saya sebut sebagai warna nusantara. Ada bu Yulizar dari Loksemawe, Ada juga pa Agus dari timur Fak fak.
Di Kelas.
Belajar menjadi mediator memang adalah tantangan tersendiri. Dituntut penguasaan substansi hukum ketenagakerjaan dan kecakapan-kecakapan lain seperti, negosiasi, lobby, presentase, penaganan kasus etc. semua harus diikuti sebagai prasyarat sebelum ujian kompetensi.
Substansi materi plus jadwal yang padat, tak ayal bisa membuat jenuh seperti ini. hehehe,..
Diluar kelas
Semua kejenuhan selesai di dalam kelas. Di luar kelas semua jadi menarik, olahraga, karaoke, domino, catur sampai play station. Yang paling menyenangkan di luar kelas adalah olahraga, terkecuali makanan (ikan bawal dan telur 1 mili) racikan Ayuda. Olahraga pagi di ayuda itu : SKJ (ala pa kumis dan mas soryo), Pocopoco (yang heboh itu gaya pulang pisau dengan lagu maumere), Jalan pagi sehat, dan PBB. selalu seru, ramai dan heboh. Sorepun selalu diisi dengan, voly, futsal lalu renang. pengecualian selama di sidoarjo, hanya fasilitas basket yang bisa dimanfatkan.
Lembaran - lembaran kisah membuat 3 bulan bersama itu merekat menjadi persaudaraan. setelah penutupan semua tak kuasa menahan haru. Belajar bersama, Diskusi bersama lalu lulus bersama sama.
132 Hari, Kemana saja???
Cerita-cerita yang dituliskan tak akan pernah usang. Begitulah keyakinan kecil saya waktu mulai berbagi cerita di laman pribadi ini. Walau keinginan menulis,seperti dua musim yang silih berganti datang, terkadang begitu menikmatinya, terkadang kita menghilang tak berjejak.
Terakhir saya memposting tulisan di blog saya pada 03 maret 2014, dan jika sekarang 12 Juli 2014, artinya ada 132 hari lebih saya meninggalkan ruangan blog ini.
Kemana saja yah???
Ada beberapa sebab saya menghilang (kalau mau dicari-cari alasannya) ;
satu mungkin karena Kesibukan. itu mugkin alasan yang paling bisa membuat saya bersembunyi dari pertanyaan beberapa teman tentang kenapa tidak mampir lagi. Bukan mencari-cari alasan tapi memang ada kegiatan yang saya akan ceritakan di catatan-catatan berikutnya.
Ke dua, Laptop yang rusak. yah begitulah... banyak kerjaan menumpuk dan tertunda, apalagi hanya sekedar berbasa basi di ruangan ini. tentu tertunda. sebenarnya bisa lewat android, hanya saja jemari kasar saya agak kesulitan menyentuh layar sentuh untuk menuliskan huruf dalam digit maksimal.
Ketiga Malas. selain dua sebab diatas mugkin sebab ketiga ini lebih jujur mewakili dua sebab itu hehehe..
Entah malas, sibuk, atau pura -pura sibuk banyak hal telah terlewati.
Beberapa moment yang penting di sekitar 132 hari itu :
1. Diklat Mediator (+ 3,5 bulan)
2. Ulang tahun pernikahan dan ulang tahun saya
3. Hiruk pikuk pilpres
4. Semarak Piala dunia
Semua masih terekam. Semua yang terjadi tidak mungkin di jejak lagi. Tapi kita tetap harus melangkah kan? dengan kesadaran baru, tidak untuk sibuk berpura-pura, apalagi malas.
Senin, 03 Maret 2014
Kesedihan
Setelah beberapa saat tidak menulis di laman blog ini, banyak hal juga kejadian yang saya alami telah terlewati.
Diantara sekian banyak hal yang saya maksud, yang ingin saya tulis adalah sesuatu tentang kesedihan. Kesedihan itu perasaan yang wajar, manusiawi. Siapa saja pasti pernah mengalami. Di luar alasan-alasan lain tentang mengapa orang bersedih, saya bersedih karena kehilangan. Kehilangan beberapa orang dekat dalam waktu yang sangat berdekatan.
03 Januari 2014, Teman dekat dulu semasa smp di HTM Halilulik, Febby Adja berpulang.
25 Februari 2014, Pa Cokro Arianto, senior sekalian sahabat yang baik di kantor meninggal, setelah bergelut dengan sakit selama sebulan lebih di RS. Cikini.
28 Februari 2014, Saat masih bersedih sepulang dari pemakaman Pa' Cok, info duka datang dari Kupang. Saudaraku Wily Opat juga berpaling ke kehidupan yang lain dari dunia ini. Kaget sontak terpukul tak percaya, karena sebelum meninggal malamnya, beliau masih menghubungi aku via chat fb.
3 Maret 2014, saat masih dalam sedih duka ku, di kantor ada berita lagi, Bpk Th. Sinurat, ayahanda dari Bpk. Sahat Sinurat,direktur PPPHI (unit kerja aku) tutup usia.
Rentetan kehilangan ini membawa suasana sedih yang mendalam, apalagi dalam rentan waktu yang persis beruntun. Untuk Feby, Pa Cokro dan Willy, saya sungguh terpukul. Pengecualian untuk Bpk, Th. Sinurat, karena secara pribadi saya tidak begitu dekat dengan Bpk. Th. Sinurat, tetapi hanya karena dalam suasana kerja, ada empaty karena duka orang di sekitar kita.
Semua cukup menyisakan rasa. Terkadang aku masih merasa benci mengikhlaskan sesuatu, apalagi soal persahabatan. Ini jelas bukan refleksi tentang kehilangan, karena aku tahu duka tetap sama saja rasanya. Sesak. Ada yang bilang itu takdir, dan yang sudah pergi pasti tetap terjaga. Saya sadar itu, entahlah, mungkin atas nama solidaritas, menjadi tulus itu tidak mudah.
*Awal Maret
Dalam duduk sambil menghirup dalam-dalam sebuah kesedihan.
Rabu, 19 Februari 2014
Kalah
Fakta yang menyedihkan pagi ini ; AC Milan kalah 0 : 1 dari Atletico Madrid di leg I perempatfinal champions.
Senin, 10 Februari 2014
Beberapa Point dari kasus Corby
Pada tanggal 27 Mei
2005, Corby diputuskan bersalah atas tuduhan yang diajukan terhadapnya dan
divonis hukuman penjara selama 20 tahun dengan denda sebesar Rp100 juta.
Pada tanggal 20
Juli 2005, Pengadilan Negeri Denpasar kembali membuka persidangan dalam tingkat
banding dengan menghadirkan beberapa saksi baru. Kemudian, pada tanggal 12
Oktober 2005, setelah melalui banding, hukuman Corby dikurangi lima tahun
menjadi 15 tahun.
Namun, pada tanggal
12 Januari 2006, melalui putusan kasasi, Mahkamah Agung menghukum Corby dengan
hukuman 20 tahun penjara dengan alasan bahwa narkotika yang dia selundupkan ke
Pulau Dewata termasuk kelas I atau tergolong berbahaya.
Lalu berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22/G/2012 tanggal
15 Mei 2012 SBY memberikan grasi kepada si Bule Corby. Keputusan itu telah
menimbulkan kontroversi dan berita hangat di Indonesia dan Australia saat itu. (lihat The Sydney Morning Herald, 25 Mei 2012)
Setelah
itu Corby mendapat beberapa kali amnesti, dan akhirnya bebas bersyarat pada 10
februari 2014.
--------------------------
3 Point yang saya lihat adalah ;
Satu, pertimbangan Grasi Presiden bukan pertimbangan politis tapi ansich kemanusiaan (seperti yang disampaikan jubir presiden kala itu). itu artinya, Presiden berusaha untuk berbuat baik, dengan membalas kejahatan corby dengan grasi. Kebaikan memang nilainya bisa jadi lebih tinggi dari keadilan. Tapi itu hanya boleh terjadi dalam hubungan antar individu. Keliru kalau diterapkan dalam konteks masyarakat hukum.
Dua, Tampaknya pemerintah Australia begitu gigih memperjuangkan warga negara nya yang memiliki masalah hukum di luar negeri. Sangat beda dengan negara ini jika kita coba compair dengan begitu banyaknya kasus TKI/TKW di luar negeri.
Tiga, dari kasus ini secara keseluruhan kelihatan lemahnya supremasi hukum di negara ini. Ada pantas negeri ini begitu subur dengan korupsi.
Minggu, 02 Februari 2014
Awal Februari
Hari ini ;
1.
Kesal bertemu beberapa orang suka membuat fantasi sendiri, lalu membanggain ego-ego nya.
2.
Pagi tadi, di Lt. 8 Kav. 51 Gatsu, saya di pancing diskusi tentang perbedaan antara karyawan dan buruh. Ternyata nih, banyak yang percaya bahwa buruh dan karyawan itu beda. Padahal dalam UU Naker, definisi yang ada cuma pekerja. Tapi tetap saja orang menganggap bahwa buruh bekerja dengan otot sementara karyawan bekerja dengan otak. Dodol itu. Keduanya adalah sama: labour.
3.
Periksa kesehatan pake alat seperti jam tangan yang ada lasernya. Ternyata banyak gejala yang kurang baik yang tidak terasa. Di suruh banyak minum air putih juga banyak olahraga. Sekalian cek berat badan, dan saya pas 78 kg.
1.
Kesal bertemu beberapa orang suka membuat fantasi sendiri, lalu membanggain ego-ego nya.
2.
Pagi tadi, di Lt. 8 Kav. 51 Gatsu, saya di pancing diskusi tentang perbedaan antara karyawan dan buruh. Ternyata nih, banyak yang percaya bahwa buruh dan karyawan itu beda. Padahal dalam UU Naker, definisi yang ada cuma pekerja. Tapi tetap saja orang menganggap bahwa buruh bekerja dengan otot sementara karyawan bekerja dengan otak. Dodol itu. Keduanya adalah sama: labour.
3.
Periksa kesehatan pake alat seperti jam tangan yang ada lasernya. Ternyata banyak gejala yang kurang baik yang tidak terasa. Di suruh banyak minum air putih juga banyak olahraga. Sekalian cek berat badan, dan saya pas 78 kg.
Selasa, 28 Januari 2014
Pengaruh Medsos, Lami vs Myung Sung
----------------
Pengaruh Medsos
Kalau kita beranggapan media sosial (medsos) sebagai sarana/tools yang biasa saja itu bisa jadi salah. Media sosial menempatkan pengaruhnya dalam kehidupan secara luar biasa saat ini.
Di mulai dari kemenangan luar biasa Barack Obama dalam perhelatan demokrasi di Amrik. Menggunakan kampanye lewat Twiter, fezbuk, beliau mampu mempengaruhi pemilih di sana.
Di Indonesia, penggalangan dukungan medsos mampu merubah arah kebijakan publik lewat kasus Koin Prita, dan Dukungan Cicak Vs Buaya.
------------------
Lami Vs Myung Sung
Baru saja, ada kasus menarik yang terjadi pada Sdri. Lami. kasusnya menjadi menarik setelah Lami sorang diri mengumpulkan dukungan dari medsos untuk petisi melawan PT. Myung Sung Indonesia. Dukunganpun berdatangan termasuk dari Komnasham RI. KomnasHam RI melakukan tindakan cepat mendesak Kemenakertrans untuk melakukan pemanggilan terhadap PT. Myung Sang Indonesia.
Sebenarnya kasusnya bermula ketika Sdr. Lami di PHK akibat kedapatan melaksanakan Shalat di ruang detektor perusahaan. Lami menjelaskan bahwa, musholah yang dimiliki perusahaan tidak dapat menampung kapasitas kayawan untuk melakukan kewajiban beribadahnya, sehingga terpaksa ia melakukan sholat di ruang detektor.
Kasus ini sementara dalam upaya klarifikasi oleh kemenakertrans. dalam minggu ini akan ada pertemuan dengan pihak PT. Myung Sung dan Sdri. Lami.
Berikut adalah isi petisi dukungan terhadap Sdri. Lami
Untuk:
Muhaimin Iskandar, Menakertrans
Suryadarma Ali, Menteri Agama
Mr. Hery Kim, Presiden Direktur PT. Myung Sung
Direksi PT. KBN, Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung
Muhaimin Iskandar, Menakertrans
Suryadarma Ali, Menteri Agama
Mr. Hery Kim, Presiden Direktur PT. Myung Sung
Direksi PT. KBN, Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung
"Saya tidak mau di PHK hanya karena protes saya terhadap tindakan Mr. Kim, Direktur PT. Myung Sung, yang menghardik saya ketika hendak shalat di ruang detektor perusahaan."
“Kami memproduksi pakaian indah-indah, yang tak pernah bisa kami kenakan: ZARA. Jacket musim dingin Adidas adalah diantara yang utama. Semuanya untuk ekspor.”
“Gaji kami sangat sering terlambat, upah yang seharusnya Rp. 2,2 juta ditangguhkan hingga kami hanya menerima 1.978.000. Terakhir, sampai saat ini, THR pun belum teman-teman saya terima.”
Teman-teman, saya belum pernah membuat petisi. Tapi, dibantu teman saya se-organisasi, saya belajar melakukannya agar khalayak, bukan buruh saja, mengetahui perilaku Pak Kim, pemimpin perusahaan tempat saya 10 tahun bekerja. Dukungan tandatangan teman-teman sangat saya harapkan.
Pak Hary Kim, Presiden Direktur perusahaan saya mempersulit saya untuk shalat atau hanya karena saya sedang perlu tempat shalat. Ketika protes, saya malah di-PHK. Sebetulnya saya tak ingin berkepanjangan, jika saja Pak Kim tak memberhentikan saya. Saya tak mau di-PHK.
Saya ingin Mr Kim meminta maaf, mempekerjakan saya kembali, dan mushola perusahaan diperbesar, agar pekerja tidak mesti kesulitan shalat. Mohon Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar menegur Mr. Kim agar PHK sewenang-wenang ini bisa dibatalkan.
---
Berawal saat Kamis, 12 Juli 2013, saya dan teman saya Sri Haryati dilarang shalat dzuhur di ruang detektor perusahaan, oleh Mr. Kim dengan kata-kata keras. Saya menurut, dan bersedia pindah ke tempat lain untuk melanjutkan shalat. Tapi perlakuannya pada saya, sulit diterima lapang dada: menghardik tanpa sedikitpun mau mendengar dan memahami alasan saya, bahkan mencoba memukul, hingga kemudian memberhentikan saya.
Perusahaan memang memiliki Mushola, tapi berkapasitas kecil: 20 orang. Sementara waktu istirahat kami di bulan Ramadhan hanya 30 menit, dikurangi 30 menit dari bulan biasa, sehingga sudah pasti banyak antri.
Saya dan Sri berencana shalat di ruang Detektor, karena—waktu itu—tidak ada tulisan ruang itu tak boleh dimasuki. Saat hendak masuk untuk shalat, Mr. Kim teriak keras, menghardik saya dan Sri kenapa kami masuk.
Saya menjawab hendak shalat, tapi beliau berteriak-teriak dan memarahi kami agar pergi. Saya bilang, “Ya saya akan pergi shalat di luar dan masuk hanya hendak ambil mukena saja.” Tapi beliau tak mau mendengar saya.
Beliau terus berteriak kenapa saya mengambil Mukena, saya kembali jelaskan dan berusaha sabar, hingga akhirnya berdebat dan saya kembali menyatakan saya akan shalat di luar. Beliau tak mau mendengar hingga kemudian dia mengangkat tangannya hendak memukul saya, tetapi tidak kena.
Saya jadi sangat tersinggung. Saya katakan pada Mister, “silahkan tampar saya” sambil saya hadapkan wajah dan badan saya padanya. Saya minta Sri dokumentasikan, tetapi Sri sudah menjauh, mungkin karena takut.
Saat itu juga beberapa orang yang bekerja untuk perusahaan, yaitu Mr. Sony dan Miss. Park mendatangi kami, juga berbicara keras sehingga memaksa saya lari ke podium perusahaan dan menyampaikan pada semua pekerja bahwa saya dilarang shalat.
Mereka merebut podium dan membalas pernyataan saya tidak benar dan meminta teman-teman buruh tidak terprovokasi. Mr. Kim berteriak lagi menuntut saya minta maaf. Saya menolak karena saya yang dihardik saat hendak Shalat, “kenapa saya yang harus meminta maaf, saya katakan di hadapan mereka “hanya Tuhan yang tahu.”
Persoalan belum selesai di sini. Pada 24 Juli saya menanyakan ke personalia kenapa gaji saya tertanggal 20 Juli belum dibayar, padahal seluruh pekerja sudah mendapatkannya. Setelah itu personalia berkoordinasi dengan Mr. Kim, baru kemudian gaji saya terima siang itu. Sore harinya saya kembali dipanggil oleh personalia, manajemen dan pengacara perusahaan.
Mereka mengatakan, Mr. Hary Kim menginstruksikan mereka untuk mem-PHK saya. Alasannya saya melanggar ketertiban bekerja, menuduh saya telah memprovokasi. Saya membela diri, tapi mereka tak mendengar. Mereka mengatakan saya tetap di-PHK dan diberikan pesangon sesuai ‘kesalahan’ saya, tidak berdasarkan UU yang berlaku. Saya menolak PHK. Dibantu organisasi, saya memprotes sikap Mr. Kim.
Sri Haryati, satu-satunya saksi saya atas kejadian itu, terpaksa menandatangani kronologi versi perusahaan. Teman saya itu takut, seperti ketakutan yang luas melanda mayoritas perempuan buruh PT. Myung Sung.
Kami memproduksi pakaian yang indah-indah, yang tak pernah bisa kami kenakan: ZARA, jacket musim dingin Adidas adalah diantara yang utama. Semuanya untuk ekspor. Seperti ini sebagian produksi yang kami hasilkan: http://www.myungsungtex.com/eng/
PT. Myung Sung terletak di Jl. Madura I Blok D-20A KBN Cakung Jl. Raya cakung. Perusahaan Korea ini punya beberapa cabang di Jawa Barat. Buruhnya berjumlah sekitar 900 orang.
“Kami memproduksi pakaian indah-indah, yang tak pernah bisa kami kenakan: ZARA. Jacket musim dingin Adidas adalah diantara yang utama. Semuanya untuk ekspor.”
“Gaji kami sangat sering terlambat, upah yang seharusnya Rp. 2,2 juta ditangguhkan hingga kami hanya menerima 1.978.000. Terakhir, sampai saat ini, THR pun belum teman-teman saya terima.”
Teman-teman, saya belum pernah membuat petisi. Tapi, dibantu teman saya se-organisasi, saya belajar melakukannya agar khalayak, bukan buruh saja, mengetahui perilaku Pak Kim, pemimpin perusahaan tempat saya 10 tahun bekerja. Dukungan tandatangan teman-teman sangat saya harapkan.
Pak Hary Kim, Presiden Direktur perusahaan saya mempersulit saya untuk shalat atau hanya karena saya sedang perlu tempat shalat. Ketika protes, saya malah di-PHK. Sebetulnya saya tak ingin berkepanjangan, jika saja Pak Kim tak memberhentikan saya. Saya tak mau di-PHK.
Saya ingin Mr Kim meminta maaf, mempekerjakan saya kembali, dan mushola perusahaan diperbesar, agar pekerja tidak mesti kesulitan shalat. Mohon Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar menegur Mr. Kim agar PHK sewenang-wenang ini bisa dibatalkan.
---
Berawal saat Kamis, 12 Juli 2013, saya dan teman saya Sri Haryati dilarang shalat dzuhur di ruang detektor perusahaan, oleh Mr. Kim dengan kata-kata keras. Saya menurut, dan bersedia pindah ke tempat lain untuk melanjutkan shalat. Tapi perlakuannya pada saya, sulit diterima lapang dada: menghardik tanpa sedikitpun mau mendengar dan memahami alasan saya, bahkan mencoba memukul, hingga kemudian memberhentikan saya.
Perusahaan memang memiliki Mushola, tapi berkapasitas kecil: 20 orang. Sementara waktu istirahat kami di bulan Ramadhan hanya 30 menit, dikurangi 30 menit dari bulan biasa, sehingga sudah pasti banyak antri.
Saya dan Sri berencana shalat di ruang Detektor, karena—waktu itu—tidak ada tulisan ruang itu tak boleh dimasuki. Saat hendak masuk untuk shalat, Mr. Kim teriak keras, menghardik saya dan Sri kenapa kami masuk.
Saya menjawab hendak shalat, tapi beliau berteriak-teriak dan memarahi kami agar pergi. Saya bilang, “Ya saya akan pergi shalat di luar dan masuk hanya hendak ambil mukena saja.” Tapi beliau tak mau mendengar saya.
Beliau terus berteriak kenapa saya mengambil Mukena, saya kembali jelaskan dan berusaha sabar, hingga akhirnya berdebat dan saya kembali menyatakan saya akan shalat di luar. Beliau tak mau mendengar hingga kemudian dia mengangkat tangannya hendak memukul saya, tetapi tidak kena.
Saya jadi sangat tersinggung. Saya katakan pada Mister, “silahkan tampar saya” sambil saya hadapkan wajah dan badan saya padanya. Saya minta Sri dokumentasikan, tetapi Sri sudah menjauh, mungkin karena takut.
Saat itu juga beberapa orang yang bekerja untuk perusahaan, yaitu Mr. Sony dan Miss. Park mendatangi kami, juga berbicara keras sehingga memaksa saya lari ke podium perusahaan dan menyampaikan pada semua pekerja bahwa saya dilarang shalat.
Mereka merebut podium dan membalas pernyataan saya tidak benar dan meminta teman-teman buruh tidak terprovokasi. Mr. Kim berteriak lagi menuntut saya minta maaf. Saya menolak karena saya yang dihardik saat hendak Shalat, “kenapa saya yang harus meminta maaf, saya katakan di hadapan mereka “hanya Tuhan yang tahu.”
Persoalan belum selesai di sini. Pada 24 Juli saya menanyakan ke personalia kenapa gaji saya tertanggal 20 Juli belum dibayar, padahal seluruh pekerja sudah mendapatkannya. Setelah itu personalia berkoordinasi dengan Mr. Kim, baru kemudian gaji saya terima siang itu. Sore harinya saya kembali dipanggil oleh personalia, manajemen dan pengacara perusahaan.
Mereka mengatakan, Mr. Hary Kim menginstruksikan mereka untuk mem-PHK saya. Alasannya saya melanggar ketertiban bekerja, menuduh saya telah memprovokasi. Saya membela diri, tapi mereka tak mendengar. Mereka mengatakan saya tetap di-PHK dan diberikan pesangon sesuai ‘kesalahan’ saya, tidak berdasarkan UU yang berlaku. Saya menolak PHK. Dibantu organisasi, saya memprotes sikap Mr. Kim.
Sri Haryati, satu-satunya saksi saya atas kejadian itu, terpaksa menandatangani kronologi versi perusahaan. Teman saya itu takut, seperti ketakutan yang luas melanda mayoritas perempuan buruh PT. Myung Sung.
Kami memproduksi pakaian yang indah-indah, yang tak pernah bisa kami kenakan: ZARA, jacket musim dingin Adidas adalah diantara yang utama. Semuanya untuk ekspor. Seperti ini sebagian produksi yang kami hasilkan: http://www.myungsungtex.com/eng/
PT. Myung Sung terletak di Jl. Madura I Blok D-20A KBN Cakung Jl. Raya cakung. Perusahaan Korea ini punya beberapa cabang di Jawa Barat. Buruhnya berjumlah sekitar 900 orang.
Salam,
[Nama Anda]
[Nama Anda]
Hati
"Pengetahuan yang bersumber pada hati dapat mengenal masalah-masalah kehidupan sejati, karena masalah tsb tidak dapat dirumuskan dengan kaidah-kaidah logika semata", ujar Blaise Pascal.
"Hati memiliki pertimbangan yang tak dikenal oleh akal budi", kata Max scheler mempertegas maksud Pascal.
Rabu, 22 Januari 2014
Bencana
Tragedy is a tool for the living to gain wisdom, not a guide by which to live.
Robert F. Kennedy
I certainly believe there is wisdom behind every sick.
Robert F. Kennedy
------------------
Akhir - akhir ini, volume dan intensitas hujan makin sering, dengan waktu yang tak tentu. Hujan bagi sebagian orang tentu adalah berkat. Petani di kampung-kampung tentu sangat meginginkan curah hujan yang baik untuk hasil panen yang baik. Tapi bagi masyarakat metropolis seperti Jakarta hujan lebih seperti kutukan. Banjir dimana-mana. Banjir juga menyebabkan macet yang luar biasa.
Di berita-berita media, bencana awal tahun 2014, bukan hanya di ibu kota. Manado Banjir bandang malah lebih mengerikan. Jawa tengah juga beberapa titik terendam banjir. Dan di Karo puluhan ribu pengungsi masih bertahan di tenda-tenda karena aktivitas Gunung Sinabung yang terus-menerus mengeluarkan api.
Bencana harus membuat kita belajar lebih bijak. Hidup lebih bersahabat dengan alam. Tidak perlu harus saling mencerca soal kebijakan. membayangkan kalau kita adalah korban dari sebuah bencana, tentu itu sangat sakit. Hidup setiap kita harus dievaluasi.
I certainly believe there is wisdom behind every sick.
Langganan:
Postingan (Atom)












