Kamis, 17 Juli 2014

Pilihan

Kehidupan manusia sarat pilihan. Siapa saja, boleh memilih. Orang berhak memilih jadi baik atau buruk, jadi pecundang atau pahlawan, sukses atau gagal, zero atau hero, something atau nothing. Yang pasti adalah semua pilihan punya resiko. Punya konsekuensi masing masing. Kalau sudah memilih satu hal, harus juga bersiap dengan apapun resikonya walau itu sakit, butuh perjuangan, bahkan melelahkan .


Untuk resiko sebuah pilihan memang ada harga yang harus dibayar.


Rabu, 16 Juli 2014

Tanggal 22 nanti

Akhir-akhir ini banyak orang yang kecewa, sebagian mungkin marah juga acuh dengan pemerintahan negara. Tentang bagaimana ia mengatur ini dan itu, memfasilitasi ini dan itu dst. Karena itu tak sedikit yang mengkritik, ngasih usul, bahkan ada yang memaki maki pemerintah. Terlalu  banyak opini, artikel, seminar diskusi dan debat diselenggarakan dengan harapan-harapan yang terlontar; semoga keyakinan kita bernegara tetap memiliki tujuan.

Indonesia kita ketahui adalah negara yang berdaulat atau  istilah kampungnya Sovereign state. Rakyat yang berdaulat dalam demokrasi negara ini, dan negara lah yang menyiapkan aksesi  menuju kesejahteraan rakyatnya. huisssss...itu idealnya.

Semua itu terproses dalam penyelenggaraan Pemilu. Masyarakat diajak berpertisipasi, terlibat dalam semua tahapan. Diskusi negara ini tidak hanya ada di ruang ruang ber-ac saja. Diskusi negara ini tuntas milik semua golongan. dari tukang ojek, pengemis, pedagang pasar, karyawan, pns, sampai TKI di luar negeri semuanya bicara tentang pesta demokrasi negara ini. Bincang bincang tentang negara pun tidak hanya ada di dunia nyata, di dunia justru lebih ramai meriah. Ini baik. Masyarakat diajak ke dalam diskursus. Masyarakat digerakkan untuk tumbuh kesadarannya terlibat terhadap sesuatu yang berhubungan dengan nasib mereka. Apakah itu harus??? Jawabannya : HARUS!! kan yang megang daulat ya Rakyat.

9 Juli lalu, kita telah memutuskan untuk memilih pemimpin negara ini. Ada 2 calon presiden dan calon wakil presiden, yang berusaha memenangkan hati masyarakat negeri ini. bermain isu, perkuat wacana, mantapkan visi misi, rancang strategi bertempur babak belur di kantung - kantung basis partai, muluk dengan janji, mengelabui dengan pencitraan dalam 5 kali debat. Ramai, riuh dan berisik. Ini kontestasi yang luar biasa. Luar biasa karena ini negara besar, negara yang mestinya kuat di mata negara negara lain. Negara yang strategis yang membuat kuku kuku asing tetap bernafsu mencengkeram. Kalau kita salah milih, atau kalau rakyat yang punya daulat itu belum sadar pemimpin seperti apa yang mereka butuh, maka ini negara hanya bermimpi tentang kedaulatan yang kosong. Rakyat akan terus jadi jargon dalam retorika-retorika rakus elit tertentu.

Sebagai warga negara, saya sudah datang ke TPS, coblos dan celupin tinta di tangan. Saya bayar tuntas tanggung jawab saya sebagai warga negara untuk perubahan di 9 Juli lalu. Hingga saat ini belum ada kepastian siapa yang memenangkan pertarungan ini. Masih ada klaim - klaim versi quick qount. Ada calon dan pendukungnya yang sudah merayakan kemenagan. Saya kira,  tunggullah real cont versi KPU. Media juga harus proporsional pemberitaannya jangan sampai terprovokasi.

Sambil terus mengawal sehingga 22 juli nanti. Rakyat pasti menang. Bukan si A atau Si B. Bukan Militer atau Sipil. Semua rakyat Indonesia.


            Yakin saja.. sekali lagi yakin.. karena keyakinan lah yang membuat kita tidak kembali kepada kegelisahan.


Piala Dunia, Der Panzer dan Mimpi Garuda


Sejak kecil saya menyukai sepak bola. 1994 adalah piala dunia pertama yang saya tonton, dan waktu itu saya kelas 3 SD.  masih teringat benar di kampung kami oelnitep, 10 Km arah timur kota Kefa, satu-satunya keluarga yang punya televisi adalah kepala sekolah SD kami waktu itu. Itupun TV box hitam putih dengan sambungan arus dari aki, karena belum ada listrik PLN, dan tiang bambu panjang disamping rumah sebagai antene plus barang barang alumunium sebagai penangkap sinyal. Tentu di era kemajuan digital seperti hari ini, semua hal lebih mudah. Di kampung saya yang jauh di timur sana juga sudah banyak berubah. sekarang hampir setiap rumah ada perangkat tv. Orang bisa menonton piala dunia dari kamar masing masing.

Piala Dunia 2014 sudah kelar. Perhelatan yang  menarik perhatian seluruh dunia, berakhir dengan kemenangan Der Panzer Jerman.  Si kecil Goetze, telah mengubur harapan super Messi di  laga akhir. Argentina tertunduk, Jerman berpesta. Bukan hanya itu banyak rekor lain tercipta oleh Der Panzer. Sebelumnya di laga semifinal Brazil dipecundangi, dicukur, dipermalukan,  dikutuk, diajari 'cara bermain bola' dengan skor telak 7-1. Saya yang sejak awal penyelenggaraan piala dunia menjagokan Brazil seperti tidak percaya dengan keperkasaan Jerman.

Sejak 1954 Jerman diberi julukan tim Panzer atau Der Panzer. Para penggemar sepakbola saat itu menganalogikan timnas Jerman sebagai sebuah tank/panzer yang bermesin diesel yang semakin lama semakin panas. Di Brazil 2014 Jerman begitu luar biasa, bukan karena tim itu yang semakin lama semakin panas tapi karena Jerman memang selalu di depan untuk mengaitkan banyak hal secara sains. Termasuk sepakbola mereka. Klinsman dan Loew memberi kesempatan para jago IT di Jerman mendesign sebuah aplikasi taktikal sepakbola yang bisa dimainkan dari gadget-gadget para pemain Jerman. Dari aplikasi itu bisa diketahui karakter dan tipikal tiap pemain, sehingga pelatih akan mudah menyusun skema permainan. Saya kira itu sangat berhasil. Jerman mengangkat trofi karena mereka bermain sebagai tim. Mereka mengawinkan ilmu pengetahuan dan sepakbola sebagai tontonan dan seni.

Di Berlin, ratusan ribu orang berjubel di jalan menyambut kedatangan pahlawan pahlawan dari Rio de Jeneiro, Brazil.

Di Indonesia mulai Jakarta hingga pelosok kampung di ujung timur sana, semua masih bermimpi suatu saat Garuda juga ada disana.

Der Panzer, Es ist dein spiel..!


                                                                 




Sabtu, 12 Juli 2014

Diklat mediator HI

Laksana seorang sastrawan yang suka mencari hal-hal baru, sejak lama pula saya ingin sekali mengikuti diklat mediator. untuk itu, saya awali  ucapan terima kasih bnayak  kepada, Pa Sahat (Direktur PPPHI), Pa Aruan (Kasubdit Pencegahan), yang beri kesempatan kepada saya ikuti diklat mediator di Puri Ayuda Resort, dan PKL di Sidoarjo.

Mengikuti diklat mediator sama seperti memunculkan kenagan di bangku sekolah dulu. Rutinitasnya terpola ; bangun pagi olahraga, belajar, diktat/modul, tugas, presentase,  dan ujian. begitu terus menerus. karena sejak awal saya begitu ingin menjadi mediator, maka semua yang terpola dalam rutinitas itu menjadi konsekuensi yang asyik. keseluruhan ada 3 angkatan iklat mediator. angkatan 72, 73 dan angkatan 74.  tiap kelas jumlahnya 30 orang. tentu saya senang sekli ada di kelas 73 dengan teman teman yang selalu saya sebut sebagai warna nusantara. Ada bu Yulizar dari Loksemawe, Ada juga pa Agus dari timur Fak fak.



Di Kelas.
Belajar menjadi mediator memang adalah tantangan tersendiri. Dituntut penguasaan substansi hukum ketenagakerjaan dan kecakapan-kecakapan lain seperti, negosiasi, lobby, presentase, penaganan kasus etc. semua harus diikuti sebagai prasyarat sebelum ujian kompetensi.




             Substansi materi plus jadwal yang padat, tak ayal bisa membuat jenuh seperti ini. hehehe,..


Diluar kelas
Semua kejenuhan selesai di dalam kelas. Di luar kelas semua jadi menarik, olahraga, karaoke, domino, catur sampai play station.  Yang paling menyenangkan di luar kelas adalah olahraga, terkecuali makanan (ikan bawal dan telur 1 mili) racikan Ayuda. Olahraga pagi di ayuda itu : SKJ (ala pa kumis dan mas soryo), Pocopoco (yang heboh itu gaya pulang pisau dengan lagu maumere), Jalan pagi sehat, dan PBB. selalu seru, ramai dan heboh.  Sorepun selalu diisi dengan, voly, futsal lalu renang. pengecualian selama di sidoarjo, hanya fasilitas  basket yang bisa dimanfatkan.



Lembaran - lembaran kisah membuat 3 bulan bersama itu  merekat menjadi persaudaraan. setelah penutupan semua tak kuasa menahan haru.  Belajar bersama,  Diskusi bersama lalu lulus bersama sama.  







132 Hari, Kemana saja???

Cerita-cerita yang dituliskan tak akan pernah usang. Begitulah keyakinan kecil saya waktu mulai berbagi cerita di laman pribadi ini. Walau keinginan menulis,seperti dua musim yang silih berganti datang, terkadang begitu menikmatinya, terkadang kita menghilang tak berjejak.

Terakhir saya memposting tulisan di blog saya pada 03 maret 2014, dan jika sekarang 12 Juli 2014, artinya ada 132 hari lebih saya meninggalkan ruangan blog ini. 

Kemana saja yah??? 

Ada beberapa sebab saya menghilang (kalau mau dicari-cari alasannya) ; 

satu mungkin karena Kesibukan. itu mugkin alasan yang paling bisa membuat saya bersembunyi dari pertanyaan beberapa teman tentang kenapa tidak mampir lagi. Bukan mencari-cari alasan tapi memang ada kegiatan yang saya akan ceritakan di catatan-catatan berikutnya. 

Ke dua, Laptop yang rusak. yah begitulah... banyak kerjaan menumpuk dan tertunda, apalagi hanya sekedar berbasa basi di ruangan ini. tentu tertunda. sebenarnya bisa lewat android, hanya saja jemari kasar saya agak kesulitan menyentuh layar sentuh untuk menuliskan huruf dalam digit maksimal. 

Ketiga Malas. selain dua sebab diatas mugkin sebab ketiga ini lebih jujur mewakili dua sebab itu hehehe.. 

Entah malas, sibuk, atau pura -pura sibuk banyak hal telah terlewati. 

Beberapa moment yang penting di sekitar 132 hari itu : 
1. Diklat Mediator (+ 3,5 bulan)
2. Ulang tahun pernikahan dan ulang tahun saya
3. Hiruk pikuk pilpres
4. Semarak Piala dunia

Semua masih terekam. Semua yang terjadi tidak mungkin di jejak lagi. Tapi kita tetap harus melangkah kan? dengan kesadaran baru, tidak untuk sibuk berpura-pura, apalagi malas.